BUNDA
AKU INGIN KEMBALI KECIL
Mentari pagi yang
hendak menyapa menemaniku yang duduk bersandar sembari menuliskan suasana hari
ini, air gemericik berenang menari-nari bersama ikan-ikan koi. Masyarakat yang entah mau kemana terlihat sangat sibuk
dan kendaraan yang berlalu lalang bak angin menyapu jalan.
Besok adalah hari
penting bagiku di mana aku mendapat tugas penting negara dengan amanah yang
cukup menantang. Namaku Zulaikha seorang pekerja sosial dan on the way menuju mentri
sosial. Aku sekarang tinggal di rumah yang sederhana tapi amatlah sejuk tak
kalah seperti rumah di desa tanah aku dilahirkan. Saat itu aku tinggal bersama
kakak perempuan yang bernama Arum. Sosok yang serba bisa mulai memasak,
berwirausaha, dan mengasuh anak. Dia
sekarang bekerja sebagai wirausaha busana batik di daerah Jakarta yang sekarang
sudah mempunyai cabang di Surabaya dan Yogyakarta. Siapa yang tak tau nama Arum
Batik yang kini anaknya pun dipakai sebagai nama toko batik di Surabaya. Regina
Batik dan mungkin tahun depan nama suaminya pun akan di gunakan sebagai nama
cabang di Kalimantan.
Kring.... kring....
kring..... handponeku berbunyi Ririn rekan kerja , “ halo assalamualaikum
gimana Ri ? “
“ waalaikumsalam zul,
iya ni kita ada perubahan jadwal untuk surve lokasi, nanti kita rapat sekitar
jam 10 lalu home visit disebagian wilayah lalu dilanjutkan besok.” (ucap Ririn
dengan agak giduh)
Hatiku semakin
penasaran kenapa tak ada hujan tak ada petir tiba-tiba datang badai.
“ loh
kok bisa dimajukan Ri, emang ada masalah apa?”
“ iya ini dari atasan
ada rapat dulu karena ada sedikit masalah di daerah binaan”
“ oke lah”
“sip sip Zul la trus
gimana planingmu buat pergi sama kakak kamu ke acara reuni kalau jadwal diubah?”
“ udah Rin gausah di
fikir nanti gampanglah”
“oh yauda kalau kek gitu maaf ya Zul karna
mendadak” (Ririn yang belum tenang)
“ uda gapapa nanti
gampang aturnya. Heheheh”
“ oke Zul, yauda gitu
aja, nanti rapat di tempat biasa ya,.. assalamualaikum”
“ waalaikumsalam”
ucapku
Aku agak bingung mau
gimana aku ngomong dengan kakaku tapi mau gimana lagi tugas negara lebih utama
dan mungkin nanti kakak juga bakalan ngerti. Aku lekas beranjak dari sandaran
santaiku menuju kakaku yang lagi sibuk masak di dapur. Gorengan bakwan jagung
yang selalu muncul dan menjadi menu favorit pagi itu.
” Kak kak kak.....”.
(panggilku untuk mencari sang kakak)
“ apa si Zul kok teriak teriak ada apa?” (jawab
Arum)
“hmmmm gini kak gimana
kalau perginya besok aja?”.(sambil lenggak lenggok untuk merayu kakaknya)
“ihh gabisa la Zul kan
ini juga acara penting emang kamu mau ngapain sih?”.(dengan keras menolak
tambah ga faham sama rencana Zuliakha)
“gini lho kak tadi aku
dapet info kalau aku home visit ke desa seberang maju harinya,katanya si mau
rapat dulu baru cus home visit”
“oalah gitu to, uda gapapa nanti biar kakak
suruh jemput temen aja,kamu nyantai aja”.(sambil membolak-balik bakwan jagung
di wajan)
“beneran ya kak, ga
enak aku jadinya tambah ga enak kalau nanti ga bawa makanan kalau abis reuni”.
“kamu ya Zul uda gajadi
nganterin tapi masih minta oleh-oleh....hahaha”(tertawa bergurau )
“hehehe kan aku juga
laper... makasi yang kakaku tercinta”(sambil memeluk Arum)
“ihh uda ah Zul kamu
bikin illfeel aja deh,”(bergurau sambil bergaya menolak pelukan Zulaikha)
“kakak jorok deh bau
belum mandi”(sambil melepas pelukan sambil lari menuju laptop berada)
“ dasar
Zulaikha”(menggeleng gelengkan kepala)
Aku segera beresi
laptop dan kawan-kawan yang aku tinggalin di depan rumahku, lalu otw persiapan
rapat di kantor. Aku pun mandi sekitar 15 menitan lalu ke kamar memilih baju
paling cocok untuk jadwalku hari ini. Tak lama kemudian Regina anak kak Arum
bangun, ya adik kecil imut kaya Cinderela baru masuk paut.
“bunnnnnddaaa...... “
“apa dek (jawab Arum
sang bunda)
“aghhh......”(sambil
berjalan menuju Arum)
“apa dek duduk dulu
nanti mandi trus ikut bunda”
“kemana bunda?”(berubah
semangat yamg awalnya ucek-ucek mata)
“jalan-jalan dong,
nanti tante ga usah diajak ga usah kasih oleh-oleh”
“ahhhh kakak mulai
ngajarin ga baik sama Regina, jangan dengerin ya dek”(sembari sibuk memilih
baju kerja yang cocok)
“hahahaha”
Merah dan putih warna
favoritku dan terkadang aku pakai sekaligus, yaitu rok merah dan baju putih
atau sebaliknya dan sampai-sampai teman kerja bilang kalau aku uda kaya bendera
yang siap di kibarkan, kamu emang calon mentri negara yang hebat,, aku kadang
tersenyum dan slalu ku amini doa mereka.
Bagiku merah bukan
hanya menyatakan sebuah kegagahan tapi merah menyatakan semangat yang besar
yang membara untuk beriktiar demi cita-cita, lalu putih bukan sekedar suci tapi
bagaimana kita mendekatkan diri pada sang pencipta.
Sebelum berangkat
kemanapun selalu ku pandang terlebih dulu tembok di kamarku.
“semangat dan lakukan
terbaik”(batinku sambil tersenyum)
Ya itu harapanku sampai
hari ini dan sekarang sedang proses
menuju kesana, selalu aku tuliskan 2000 harapan di tembok kamarku yang ku
isikan harapan-harapan yang aku inginkan dan yang sudah terkabul aku lingkari
dengan pena hijau. Harapan yang aku tulis sejak aku masih duduk di kelas 6 SD
ya sekitar 10 tahun yang lalu, aku juga tak tau bagaimana berfikirku kala itu
dan sampai saat itu aku belum menambah harapan yang aku tulis saat aku masih
unyu-unyu. Di pojok juga aku pasang sterofom yang berisi planing and target
masa depanku, ya fikirku sebagai bentuk displinku. Kalau di lihat uda penuh dinding kamarku
berisi tentang rencana untuk mencapai cita-cita.
Jam sudah menunjuk
pukul 08.30 WIB, aku segera berangkat dengan motor Supra yang kata orang jadul yang masih aku bangga-bangggakan. Ya
sekitar 15 menit uda nyampe lah.
“ kak aku barangkat
dulu ya, jangan lupa oleh-olehnya”(teriak Zulaikha pamitan sama Arum yang
sedang mandi)
“ iya uda sana, ati-ati
ya...”(menjawab sambil mengguyurkan air di badannya)
“ oke kakak aku salim
dulu dong,bukain pintunya...”(menggoda goda sang kakak)
“ uda gausah nanti
luntur lho make up mu...”
“ iya juga si , yauda
kak aku berangkat ya”
Motor hebatku sudah
memanggil-manggil dan aku mulai jalan, dengan semangat aku memulai hariku
menuju kantor. Sesampai di kantor ternyata sudah dimulai, aku segera masuk lalu
ikut rapat.
“assalmualaikum wr.wb.
terima kasih untuk rekan semua untuk datang tepat waktu, maaf atas rapat yang
begitu dadakan karena ada sedikit permasalahan di area visit kita, ada sedikit
kerusuhan yang terjadi di desa binaan kita saat ini, lebih tepatnya ada anggota
kita yang telah membuat salah satu warga binaan agak marah sehingga kita harus
mengambil tindakan untuk mengembalikan kepercayaan mereka. Nanti kita tetap
melakukan home visit dan untuk terlebih dahulu mengunjungi kepala dusun untuk
meminta tolong untuk mengembalikan keadaan, gimana rekan setuju tidak?”
“iya pak saya setuju....”(saran Ririn)
“bagaimana yang
lain?”(sekali lagi untuk mencari keputusan bersama)
“iya pak setuju” (ucap
semua yang hadir dengan serentak)
“jika semua sudah
setuju nanti jam 10.00 WIB otw ke desa seberang, yang saya tugaskan ke tempat
bapak kepala dusun Zulaikha dan Ririn nanti kalian mempelajari apa kesalahan
yang terjadi nanti kalian tampung bagaimana baiknya untuk menyelesaikan masalah
ini. Nanti kalian konfirmasi saya dulu”
“siap pak”(jawab Ririn)
Setelah 1 jam
pelaksanaan rapat kemudian Ririn dan Zulaikha on the way menuju rumah bapak
kepala dusun untuk menindaklanjuti masalah.
Jalan terjal, bukit
bertebaran, hamparan sawah, ulat jati bergantungan disepanjang jalan. Ririn
agak takut akan hewan imut yang katanya enak dan gurih itu.
“Zul ati-ati lah,
sumpah ini jalan kaya kebun ulat”(hampir nangis ketakutan)
“gapapa Rin sabar
ya...”
Begitu sejuk desa
binaan ini, tak ada yang tidak sempurna daun melambai-lambai dan masyarakat
yang cukup sibuk di kebun. Sesampai di tempat bapak kepala dusun ku pijakkan
kaki demi sebuah penyelesaian masalah.
“assalamualaikum ....”
“waalaikumsalam”(pak
kepala dusun menuju pintu depan)
“maaf pak menggangu”
“oh ya silahkan
masuk,oalah mbak Zul dan Mbk Rin to, iya gimana ?”
“gini pak kami mendapat
laporan kalau ada salah satu masyarakat yang telah disakiti oleh teman kami,ini
ada kesalah fahaman atau yang lain,ini kebenarannya gimana ya pak”
“oalah iya mbak ini
memang ada kesalah fahaman ketika surve lokasi di rumah salah satu masyarakat
pak Rohman namanya, kemarin ia juga cerita dengan saya dan saya sudah
menjelaskan kesalah fahaman itu, menurut pengamatan saya saat kegiatan itu
anggota LSM lelah dan masyarakat agak susah diatur dan spontanitas ada satu
anggota LSM agak tegas dan ia tersinggung”
“lantas kami dari pihak
LSM baiknya bagaimana pak?”
“begini saja mbak kita
besok saja kita kunjungi rumahnya kita beri penjelasan sekaligus silaturahmi”
“oh ya pak begitu juga
tak apa, nanti kami konfirmasi dahulu dengan pak direktur untuk semua, untuk
kapannya nanti kami kabari bapak lewat kontak bagaimana pak?”
“oh yaya mbak tak papa,
bageitu pun sudah baik”
“makasih pak untuk
waktunya dan bantuannya, kami minta pamit untuk melanjutkan tugas kami”(sambil
berdiri dan berjabat tangan dengan bapak kepala dusun)
“oh iya mbak sama-sama,
memang kita juga harus bekerjasama untuk kemajuan desa di sini”
Setelah itu aku dan
Ririn kembali ke kantor untuk meminta konfirmasi dengan pak direktur, dengan
langsung pak direktur menyetujui dan kami lekas menghubungi pak kepala dusun
untuk janjian kapan kunjungan di laksanakan.
“assalamualaikum pak,
saya Zulaikha dari LSM ini kalau kunjungan ke rumah pak Rohman kita laksanakan besok
jam 10.00 WIB bagaimana pak?”
“oh iya mbak saya slalu
stand by kok”
“oh ya terima kasih
pak”
Hari berganti mentari
sama sekali tak enggan mewarnai dengan senyumnya yang indah, daun tetap hijau
berseri. Sama tak berbeda mungkin hanya saja lebih ramai di seberang jalan
karena hari ini adalah hari libur. Seperti biasa aku bangun lalu mandi untuk mempersiapkan
diri, sesaat aku luangkan waktu untuk membantu sang kakak untuk bergulat di
dapur dan sejenak bermain bersama Regina imut.
“tante tau ga kenapa
burung bisa terbang”(tanya Regina penasaran)
“kenapa ya...hmm karena
punya sayap dek”
“tante aku pengen jadi
pilot aja deh tante biar bisa terbang kaya burung,kan aku ga punya sayap, nanti
tante sama temen-temen aku ajak naik deh, kata ibuk kita harus bercita-cita
tinggi dan pinter”
Dengan kaget dalam hati
begitu besar angan Regina anak paut yang sudah bercita-cita sebesar ini. Bunda
aku rindu bunda hanya itu yang terpikir, dulu aku juga dimotivasi untuk hal
itu.
“iya dek.. kakak doakan
semoga terkabul,,Amin. Sekarang sekolah yang yang pinter dulu ya”(jawab Zulaikha
sembari memeluk Regina dan meneteskan air mata)
“tante kanapa?”
“gapapa dek, tante
seneng banget”(sembari mengusap air mata)
Tak terasa jam berputar
begitu cepat sesegeralah aku beranjak dan pergi ke kantor untuk home visit.
Pamitan yang tak terlupa dan aku persiapkan mental untuk bertempur di medan
perang. Sesampai di kantor ternyata Ririn sudah berada di sana,tepat jam 09.30
kami otw menuju desa seberang yang terlebih dulu mampir ke tempat pak kepala
dusun. Pak kepala dusun ternyata sudah stand by di depan rumah bersama sang
istri yang minum teh.
“assalamualaikum pak”
“waaliakumsalam mbak, ayo saya sudah siap ,,,
lets go...hehehe”
Aku tersenyum, bapak
kepala desa ini memang super modern, lekas kami otw ke rumah pak Rohman untuk
menyelesiakan masalah. Sekitar jam 10.00 WIB kami telah sampai di rumah pak
Rohman.
“assalamualaikum pak”
“waalaikumsalam, kalian
mau ngapain kesini....”(Pak rohman berontak dan marah)
“maaf pak kami dari LSM
ingin bersilaturahmi ke rumah bapak”(ucap Ririn)
“kalian sudah pergilah
jangan berhubungan dengan keluarga kami, sudah cukup buat kemarin,tanpa kalian
pun kami mampu berkembang”(jawab pak Rohman)
“pak maksud kami ini
ingin mencari penyelesaian,dan meminta maaf atas tindakan kami terhadap bapak
dan keluarga”(lanjut Zulaikha)
“pak Rohman kita adalah
warga yang sudah bertahun-tahun di bantu oleh LSM, sudah berapa kalikan bapak
di bantu apakah cukup sekali dua kali? Sedangkan untuk memaafkan masalah kecil
pun bapak tak sudi,bukankah sudah jelas masalah yang bapak ceritakan kemarin
pada saya ? dan saya rasa semua itu hanya kedua pihak sedang tidak klob”(lanjut
pak kepala desa)
Blar....pintu ditutup
dengan keras...tampaknya dia amat marah. Aku dan tim tetap berdiri di depan
rumah pak Rohman, tapi siapa sangka sekitar 5 menit kami menunggu pak Rohman
keluar dengan menangis dan meminta maaf pada tim. Tak tau gerangan apa yang
melunturkan hatinya.
“maafkan saya mbak-mbak
“
“bapak kami yang
meminta maaf atas kesalahan kami”(ujar Ririn)
Kami pun saling
berjabat tangan bak debu yang tertaburan bersih tanpa kotoran. Istri pak Rohman
keluar bersama ke tiga anaknya, yang satu digendong yang dua menggandeng
ibunya. Istrinya tersenyum, mereka amat bahagia di rumah reot yang hampir
rubuh. Anaknya pun mulai manja-manja lucu yang sama pada umumnya anak lain. Aku
hanya mampu menangis.
“Zul kamu
kenapa?”(tanya Ririn)
“gapapa Rin aku hanya
bahagia melihat ke-3 anak pak Rohman yang begitu bahagia, aku merindukan bundaku
Rin sangat rindu,sudah hampir setahun ini aku ga pulang dan hanya komunikasi
telpon,aku rindu dan ingin kembali kecil seperti mereka yang selalu dimanja dan
diperhatikan setiap waktu”(jawab Zulaikha dengan panjang lebar)
Ririn tersenyum dan
memelukku lambat laun nampaknya ia juga tak mampu menahan tangis.
Sekitar pukul 13.00 WIB
karena masalah sudah terseleaikan. Di tengah jalan kakakku telpon memintaku
transfer uang di bank,lanjut aku ke bank tempat biasa aku pakai.
Ya antri adalah hal
biasa tapi ada yang berbeda 1 keluarga yang datang dengan kedua anaknya,sungguh
tak tau kenapa rindu ini semakin menggebu-gebu akan sesosok ibu. Langsung aku
berniat aku harus pulang kampung. Selesai transfer di bank lanjut aku pulang
ternyata kakaku sedang telpon bunda, langsung aku ngobrol.
“nak kapan kamu pulang
uda setahun ga ketemu”(ungkap ibu)
“iya bu nanti
kapan-kapan aku pulang”(jawab Zulaikha sembari tersedu-sedu menangis dalam hati
hingga menetes air mata)
“iya nak Bunda tunggu
ya”
“iya bun,nanti lagi ya
bun. Bye”(sambil memberikan hp ke Arum dan berlari ke kamar yang tak kaut
menahan tangis)
Siapa yang menyangka
bagaikan jalan yang ramai menjadi sepi. Ada libur seminggu di pekerjaan,ini
adalah suatu yang langka. Akhirnya aku putuskan libur itu aku pulang kampung.
“kak rencana aku mau
pulang kampung kakak mau ikut?”(ucap Zulaikha pada Arum)
“kapan Zul..kakak si
bisanya minggu ini paling 3 hari bisanya gimana kamu yah ada libur ga?”
“bisa lah tapi juga 3
hari”(ucap suami Arum)
“asek... nanti Regina
giman?”
“ah kamu Zul paut
sekolah ga tiap hari kali, inikan hari Rabu nanti kamis sore kita otw dan
sekitar Sabtu kalau ga Minggu kita balek”
Kamis yang aku nanti
untuk menuahkan rindu pada sang bunda, kami otw sekitar pukul 14.00 WIB dan
sampai sekitar jam 20.00 WIB tanpa menunggu lama aku langsung masuk rumah dan
memeluk ibunda tercinta.
“bun aku sayang bunda,
aku rindu bunda...”
“bunda juga kangen kamu
nak... “
“bunda apa kabar,
sehatkan?”
“sehat nak, (tangis
yang membanjiri)
Ternyata makan malam
sudah disiapkan kami lekas makan dengan lauk favoritku.
“bunda aakk
suapin”(sambil membuka mulut)
“ah kamu kan sudah
besar”
“gapapa bunda, aku
pengen kaya dulu waktu bunda memanjakan Zulaikha”
Bunda Zulaikha hanya
tersenyum dan membalikkan badan mengusap air mata. Dan aku mendekat dan memeluk
erat-erat.






0 komentar:
Posting Komentar