Minggu, 04 Desember 2016

Cerpen


Wanita Bertopeng
Bunga melati yang dironce dikalungkan dileher dan keris,  penuh kebahagiaan dan senyum karena hari ini adalah hari bahagia untuk Amanda anak tunggal dari wanita 30 tahun. Lagu-lagu jawa dan tari gambyong yang menambah meriahnya acara. Wajah wanita itu amat jelas berseri dan tak mampu ia membendung air mata bak bintang venus di antara binang-bintang. Sehari pesta berlangsung dan kini masih tersisa makanan pesanan hampir 1 mobil, tapi apalah peduli yang penting semua lancar.( batin wanita tersebut)
Sesampai di rumah Amanda dan suami berpamitan untuk membangun negara sendiri atau kata lainnya pindah rumah. Dengan berat hati ibundanya melepas dan mengizinkan. Semua berubah dalam rumah, wanita itu kesepian dan tak ada semangat untuk bersosialisasi dengan tetangga, ia mulai menjauh dan mengasingkan diri dari lingkungan sekitar. Hanya sinetron yang  menemani hari-harinya. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang terbiasa tinggal di kota dan kini ia terdampar dalam lingkungan primitif tak tau teknologi. Amatlah susah dalam hati tak mampu menerima ditinggal anak satu-satunya dan harus tinggal di desa kumuh dan  jauh dari peradaban.

Pagi ini amatlah cerah burung bernyanyi-nyanyi dan matahari tersenyum lebar.
Tok tok tok .... permisi buk.. datang ibu RT yang bermaksud untuk memberikan info untuk acara lingungan.
“Iya sebentar....” wanita itupun menjawab sembari membuka pintu rumah, senyum lebar dan persilahan untuk masuk yang terurai.
“Gini buk minggu depan desa kita ada acara refreshing di tempat pantai, untuk biaya satu orang Rp. 30.000 itu sudah transport dan makan siang, nanti kita kumpul di Balai jam 09.00 WIB lalu berangkat”. Jelas ibu RT dengan jelas dan runtut.
“Waah buk sebenarnya saya mau saja ikut tapi saya ada acara tanggal itu jadi maaf ya buk” ucap wanita dengan lembut dan penuh penyesalan.
“oh yauda tak apa buk... ya sudah buk saya mohon pamit dulu”.
Ibu RT yang beranjak dari rumah wanita itu menuju pulang, sosoknya yang semakin jauh menghilang kemudian wanita itu masuk rumah dan menemui Ira saudara yang tinggal rumahnya karena sekolah di dekat rumah wanita tersebut.
“ ra... tau ga tadi bu RT dateng gayanya ajakin refreshing, halah cuma ke pantai aku si males banget, dan kebetulan ada acara pas waktu itu.. halah toh tu biaya juga cuma ambil kas dan yang ga berangkat juga kasih uang untuk biaya mereka, apa apaan coba mau ada acara tapi uang aja ga ada dan cuma ngarepin sumbangan dari pendatang doang” (ucap wanita dengan sengit)
Tanpa menjawab apapun Ira hanya tersenyum sebagai bentuk penghormatan untuk saudaranya. Tak tau apa yang difikirkan saudaranya, Ira dengan jelas melihat ekspresi yang amat menyesal di depan bu RT karena tak bisa ikut namun ternyata ia malah mengejek. Ira hanya mengelus dada dan istigfar.
Waktu berputar memberikan cerita kuliah Ira. Seorang mahasiswa Prodi kesejahteraan sosial di daerah Banten yang berjuang merantau dan hidup bersama saudara yang butuh kebahagiaan. Sama sekali tak menyangka saudaranya hobi cerita dongeng ala sinetron yang bikin nambah dosa, alias gosipin orang. Tapi Ira tak ambil pusing hanya fokus kuliah yang ia fikir tak lain. Hari ini Ira masuk kuliah dan ia pulang jam 16.00 WIB, tak disangka sama sekali Amanda chat Ira.
“ Ira kamu kapan pindah rencana aku mau pulang karena program hamil, biar pas maksdnya”. (ucap Amanda dengan agak aneh).
Sama sekali Ira tak faham apa maksud dari chat Amanda. Apakah ia menyuruhku pindah? Bukannya saudaraku minta aku untuk tetap di sana?. (penuh tanya dalam pikiran Ira, namun ia tetap usaha menolak pikiran negatif pada Amanda).
“maksudnya kapan aku pindah dari rumahnya mbak gitu? Ya mbak nanti aku musyawarahkan dulu”(jawab Ira melalui media sosial)
Ira teramat bingung akan perkataan Amanda, apa yang sebenarnya yang akan ada,. Mendung yang tergambar di wajah Ira yang amat terbebani oleh kata-kata yang aneh dan gajelas. Sesampai di rumah Ira hanya seperti biasa berusaha menutupi dan menganggap tak ada badai yang usai melanda. Wanita itupun tanpa kata sedikitpun yang mencuat membahas tentang rencana Amanda. Dia hanya bercerita tentang lomba desa yang diadakan tadi pagi dan keanehan ynag terjadi. Menceritakan kejelekan tetangga yang ia ektingkan dengan keramahan. Wanita bertopeng ketika bertatapan seperti tak ada masalah apapun namun dalam hati ia mulai merekam dan merangkai kata yang runtut tentang kejelekan orang tersebut untuk mengisi bicara dengan orang lain. Bukan sekali dua kali dan bukan tetangga namun siapa saja.
Tuhan... apa yang bisa ku lakukan sekarang,,, tak ada keraguan terhadap firmanmu, bahwa setelah kesulitan ada kemudahan,, biaya menambah dan aku tak punya penghasilan... Kata singkat dalam diary Ira malam itu tak tau apa yang bisa ia lakukan. Tiada kuasa air menetes hingga membawanya dalam tidur. Orang tua Ira adalah seorang petani Ibunya sedang sakit dan ia kini akan lebih membebankan.
Seperti biasa pagi menyambut matahari pun tak enggan unuk meyinari dunia. Tiba-tiba tanpa berita Amanda datang untuk pindah hari itu juga. Mobil jaz dan perabotan yang diusung.
“Selamat pagi ma, aku pindah sekarang ya ma, itu perabotan semua udah kebawa.....”.ucap Amanda dengan semangat.
Teramat kaget Ira, ia belum sama sekali mendapat tempat tinggal dan Amanda tiba-tiba datang. Tanpa basa-basi semua perabotan penuh masuk dalam kamar Ira. Ira hanya diam di depan pintu, ia tak tau harus bagaimana.
“Ira maaf hari ini kamu bisa lekas pindah kan? Ini mbak juga ga tau kalau mau tiba-tiba gini”.( Ucap wanita itu dengan penuh sesal).
“iya mbak”. Kata singkat dari Ira karena ia tak kuasa untuk menyusun kata lebih panjang, ia tetap mengontrol diri untuk tetap seperti biasa.
Jam menunjukkan pukul 08.00 WIB, Ira harus siap-siap untuk kuliah, selesai membereskan barang ia kemdian mandi dan pergi ke kampus,,, Ira mulai memutar otak kemana ia harus pergi.. pulang ataukah kos. Akhirnya Ira memutuskan untuk pulang ke kampung sebelah sebelum mendapatkan kos.
“loh kok kamu pulang bawa kegituan eh Ra?”. (tanya Ibunda Ira dengan kaget)
Begitu panjang Ira menceritakan persoalan yang ada intinya ia pindah karena Amanda pulang ke rumah ibundanya. Ibunda Ira berusaha menguatkan Ira dan memberikan semangat.
“tak apa nak, nanti kita cari kos aja udah bisa kan..”.(jawab Ibunda pada Ira sembari memeluk ira yang sedang menangis tak karuan)
“maafin Ira buk,. Semakin nambah beban Ibuk” (ucap Ira sambil sesak menangis)
“tak apa nak, terpenting kamu kuliah yang bener, kamu harapan ibuk, kamu kebanggaan ibuk,,”
Semakin erat Ira memeluk Ibundanya dan mulai saat itulah ia berjanji untuk membahagiakan Ibundanya dan sukses bagaimanapun rintangan yang ada. Ternyata tak sampai 1 bulan Allah memberikan jalan untuk Ira, ia mendapat kos yang cukup murah dan sekaligus mendapat pekerjaan untuk les privat.
Sebulan telah berjalan.. semakin semangat Ira kuliah dan ia mulai mengajukan beasiswa. IPKnya pun cukup membanggakan yaitu 3,9 hampir dapet sempurna. Alhamdulillah kemudahan yang di dapati Ira, peristiwa masa lalu sudah ia lupakan begitu saja dan bahkan ia bermaksud untuk mengnjungi rumahnya. Buah dan roti yang kini ia bawa sebagai buah tangan menuju rumah Amanda. Al hasil sesampai di sana ia mendapati Nova tinggal di rumah wanita tersebut, Nova adalah saudara Ira yang baru saja lulus SMK. Wanita itupun menceritakan jika ia sengaja mengusir Ira dan Amanda yang tinggal di rumah bukan alasannya, ia hanya tak suka dengan Ira karena ia ga bisa di ajak gosip itu salah satu alasannya. Ira tak kuasa mendengar semua kemudian ia memutuskan untuk pulang ke kos dan tidak jadi berkunjung.
“ibuk ternyata aku di usir bukan karena Amanda pulang namun karena ada persoalan lain”.(ucap Ira dalam tangis).
Ibundanya memluk dengan memberikan hiburan yang baik dan meminta untuk tidak berfikir buruk tentang wanita itu.
Selepas itu Ira membuat sebuah cerpen dengan judul wanita bertopeng yang menceritakan perjalanan hidupnya kemudia ia posting dalam web.
Klunting.....” Ra aku mau ketemu kamu sekarang di rumahku, kamu bisa kkan?”. (chat Amanda dengan singkat).
Ira sama sekali tak tau maksud untuk bertemu ia hanya menjawab (iya) untuk chat Amanda pagi itu.
Jam 10.00 WIB Ira pergi ke rumah Amanda untuk menemuinya.Tiba-tiba sampai di sana wanita itu meminta maaf pada Ira atas sikap yang ia lakukan. Namun, Ira sama sekali ta faham atas permintaan maaf tersebut.
“ maaf ini kenapa to?”.(tanya Ira amat penasaran).
“Ra aku dan Ibuku minta maaf atas perbuatan kami, tanpa kami jawab kebenarannya cerpen kamu itu sudah cukup menjawab”.(jawab Amanda)
“maaf aku tak bermaksud untuk seperti itu”.
“enggak Ira ini salah kami, kami minta maaf”.(ucap Amanda sembari menangis tersedu-sedu).
“sudah mbak aku sudah memaafkan semua itu”.(jawab Ira sambil tersenyum)
Dari situ mereka sadar bahwa mereka amat keterlaluan dan ingin memperbaiki hubungan persaudaraan dengan Ira.


Share:

Blogroll

About

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Viewer

Blog Archive