Pada tahun ‘50an datang tentara AURI. AURI sendiri
mempunyai kepanjagan Angkatan Udara Republic Indonesia. Tentara AURI ini adalah
salah satu pahlawan Indonesia yang
berjuang di kala penjajahan Belanda hingga Jepang. Mereka melakukan penyelamatan
republic Indonesia kala itu. Tentara AURI ini dulu melakukan pengungsian di
daerah dukuh Tanjung lebih tepatnya yaitu di rumah kepala desa Tanjung yang
bernama Ngatemo Diryo dan rumah rakyat biasa yaitu di rumah Diran. Saat itu
posisi Belanda masih berada di Yogyakarta
ketika tentara AURI di desa Tanjung.
Tentara AURI ini terbagi menjadi beberapa kelompok yang kemudia tinggal
ditempat yang berbeda-beda. Masyarakat desa Tanjung menyebut orang Belnda ini
dengan sebutan Londo dan masa
penjajahan kala itu disebut dengan zaman Dur
Stot.
Kegiatan selama beberapa bulan di rumah kepala dukuh
Tanjung ini yaitu melakukan pemantauan dimana keberadaan Belanda saat itu atau
menurut orang-orang Tanjung mencari pawarto
yaitu berita. Alat yang digunakan saat itu adalah radio, telegram dll. Alat
ini memanfaatkan seperti disel yang besar dan antena pemancar. Jadi ini semua
di bangun dalam lubang bawah tanah dan
dalam keadaan tertutup. Lubang ini dibangun berkat dari gotong-royong rakyat
pula dari perintah kepala dukuh kala itu. Namun untuk kejelasan isi dari dlam
lubang tanah tersebut rakyat juga tidak tahu. Rakyat juga sering mendengarkan
pemantauan dari utara rumah kepala dukuh yang dilakukan oleh Tentara AURI,pemantaun
tersebut sangat terdengar begitu keras sehingga ketika ada berita rakyat dapat mendengar dari sana.
Hal lain
yang dilakukan yaitu mereka membuat sebuah trowongan diladang-ladang untuk
melakukan penyelamatan saat tiba-tiba Belanda datang. Yaitu dengan menggali
tanah lalu menutupnya dengan gedheg
kemudian ditimbun tanah lalu juga dapat ditutup dengan tumbuhan hijau. Jadi
ketika Belanda datang mereka dapat bersembunyi di trowongan tersebut. Patrol
yang dilakukan Belanda itu tidak mengenal waktu entah siang, malam,senja atau
lainnya. Tempat lain yang menjadi pelarian yaitu di rumah Wongso dan masih
banyak lagi.
Peralatan-peralatan
perang yang mereka punya disimpan di
rumah bapak Wingin, seperti tembak dll. Namun
untuk sekarang peralatan tersebut sudah tak ada karena dibawa oleh
tentara AURI lagi. Rakyat pun juga tak berani menyimpan peralatan-peralatan
perang mereka karena mereka takut bila Ketahuan oleh Belanda mereka akan
dilacak dan mandapat masalah. Adapun mereka jika menemukan alat seperti itu mereka memilih membuangnya atau
menimbun barang tersebut.
Zaman ini menjadikan anggapan zaman yang paling
membuat rakyat menderita karena mereka harus berlari sebelum Belanda datang
melakukan patroli untuk mencari markas tentara AURI ke desa Tanjung.. Dan
rakyat juga harus menguatkan mental karena di waktu itu jika mereka bertemu
dengan Belanda saat melakukan patroli lalu mereka berlari karena ketakutan
mereka malah akan ditembak karena mereka dikira adalah tentara yang dicarinya. Karena ada seorang yang
membawa kayu namun ada Belanda yang sedang melakukan patroli lalu ia berlari
karena sangat takut tapi ia malah ditembak oleh Belanda.
Adapun kisah lain tentang seorang yang dari
bepergian membawa kacang yaitu Pawiro
Tempo dan Rejo, mereka bertemu dengan Belanda di kreteg karangmojo lalu mereka
karena muda mereka diminta berhenti. Pawiro Tempo dimintai untuk mencarikan
kelapa muda, ia sudah diberinya pisau untuk memetiknya, namun dari kesempatan
itu ia malah pergi untuk pulang dan alatnya pun ia buang karena sangat takutnya
ia pada orang Belanda. Lalu adiknya Rejo masih bersama Belanda ia ,malah
diberinya makan dan lain-lain, keberntungannya ternyata Belanda meminta Rejo
untuk mencari kakaknya yang mencari kelapa muda yang belum juga kembali, dari
kesempatan itu pula ia gunakan untuk menyelamatkan diri pulang ke Tanjung.
Sebagai penghormatan pada Belanda mereka cukup menundukan kepala kepada mereka
atau untuk menyelamatkan diri mereka cukup menutupi muka atau tinggal lewat
biasa. Keadaan rakyat kala itu baik-baik saja karena tujuan utama Belanda hanya
untuk mencari tentara AURI bukan menyakiti rakyat. Namun karena ketakutan itu
yang malah membuat rakyat khawatir dengan keadaan itu. Untuk masalah makanan
rakyat juga kadang mendapat bagian dari tentara AURI saat mereka mendatpat
kiriman seperti daging dll.
Adapun seorang menteri yang bernama Sumbandriyo yang
bersama keluarganya yang melakukan pengungsian di Banaran dari itu mereka dapat
selamat dari Belanda dan dapat kembali ke Jakarta kembali dengan selamat. Dari
kejadian itu di sana didirikan tugu yang mengenang dari peristiwa pengungsian
Sumbandriyo. Dari pemilik tempat itu pula keluarga Nomo pun mendapat perhiasan
yang banyak dari mentri Sumbandriyo dan sampai sekarang keluarga dari mentri Sumbandriyo
setiap hari kurban memberikan kurban pada desa tersebut.
Ketika adanya patrol tersebut mereka tak ada yang berani memberi tahu dimana letak
markas tentara Indonesia.namun dari itu pula ada rakyat Indonesia sendiri yang
menjadi mata-mata yaitu bernama Den Margono ,yang memberikan informasi mengenai
Tentara AURI.
Ketika ia terpisah dengan Belanda ia dibawa ke hutan lalu dibunuh. Menurut saat
itu ia mempunyai kekutan yaitu dibunuh tidak meninggal, dari kekuatannya itu ia
berani menjadi mata-mata Belanda. Ia
dikubur dalam keadaan dadanya di tombak. Dalam keadaan itupun ternyata istri
dari Den Margono sedang hamil lalu
anaknya lahir dan dibri nama Yatin.
Jam 08.00 WIB terjadi pertempuran hebat di daerah
Ngasem yaitu antara Belanda dan Tentara AURI. Ketika itupun Martono juga
melakukan penyelamatan karena ketakutan,semua bahan yang ia bawa habis karena
jatuh diperjalanan. Suara letupan senjata yang terdengar begitu jelas dari
Tanjung membuat kekhawatiran rakyat. Dan setelah itu Tentara AURI melakukan
pidah ke tempat yang lain
Foto-Foto
Tempat Yang Berhubungan Dengan tentara AURI
Nama
: Martono (Simin)
Tempat
Tanggal Lahir : Gunungkidul,24 Juni 1936
Nama
Orang Tua : Suto Wiryo (Diko) +
Ngatikem
Jumlah
Saudar : 5 orang
Pendidikan
Akhir : SD (Sekolah Dasar)
Alamat
Asal : Dengok III,Dengok,Playen,Gunungkidul
Nama
Istri : Ngadinem
Jumlah
Anak : 3 orang
Alamat
: Tanjung II,
Bleberan,Playen,Gunungkidul













