Senin, 25 November 2013

PERANAN PENDUDUK DI DAERAH TANJUNG PADA MASA ZAMAN BELANDA


Pada tahun ‘50an datang tentara AURI. AURI sendiri mempunyai kepanjagan Angkatan Udara Republic Indonesia. Tentara AURI ini adalah salah satu pahlawan  Indonesia yang berjuang di kala penjajahan Belanda hingga Jepang. Mereka melakukan penyelamatan republic Indonesia kala itu. Tentara AURI ini dulu melakukan pengungsian di daerah dukuh Tanjung lebih tepatnya yaitu di rumah kepala desa Tanjung yang bernama Ngatemo Diryo dan rumah rakyat biasa yaitu di rumah Diran. Saat itu posisi Belanda masih berada di Yogyakarta  ketika tentara  AURI di desa Tanjung. Tentara AURI ini terbagi menjadi beberapa kelompok yang kemudia tinggal ditempat yang berbeda-beda. Masyarakat desa Tanjung menyebut orang Belnda ini dengan sebutan Londo dan masa penjajahan kala itu disebut dengan zaman Dur Stot.
Kegiatan selama beberapa bulan di rumah kepala dukuh Tanjung ini yaitu melakukan pemantauan dimana keberadaan Belanda saat itu atau menurut orang-orang Tanjung mencari pawarto yaitu berita. Alat yang digunakan saat itu adalah radio, telegram dll. Alat ini memanfaatkan seperti disel yang besar dan antena pemancar. Jadi ini semua di bangun dalam lubang  bawah tanah dan dalam keadaan tertutup. Lubang ini dibangun berkat dari gotong-royong rakyat pula dari perintah kepala dukuh kala itu. Namun untuk kejelasan isi dari dlam lubang tanah tersebut rakyat juga tidak tahu. Rakyat juga sering mendengarkan pemantauan dari utara rumah kepala dukuh yang dilakukan oleh Tentara AURI,pemantaun tersebut sangat terdengar begitu keras sehingga ketika ada berita  rakyat dapat mendengar dari sana.
Hal lain yang dilakukan yaitu mereka membuat sebuah trowongan diladang-ladang untuk melakukan penyelamatan saat tiba-tiba Belanda datang. Yaitu dengan menggali tanah lalu menutupnya dengan gedheg kemudian ditimbun tanah lalu juga dapat ditutup dengan tumbuhan hijau. Jadi ketika Belanda datang mereka dapat bersembunyi di trowongan tersebut. Patrol yang dilakukan Belanda itu tidak mengenal waktu entah siang, malam,senja atau lainnya. Tempat lain yang menjadi pelarian yaitu di rumah Wongso dan masih banyak lagi.
Peralatan-peralatan perang  yang mereka punya disimpan di rumah bapak Wingin, seperti tembak dll. Namun  untuk sekarang peralatan tersebut sudah tak ada karena dibawa oleh tentara AURI lagi. Rakyat pun juga tak berani menyimpan peralatan-peralatan perang mereka karena mereka takut bila Ketahuan oleh Belanda mereka akan dilacak dan mandapat masalah. Adapun mereka jika menemukan alat  seperti itu mereka memilih membuangnya atau menimbun barang tersebut.
Zaman ini menjadikan anggapan zaman yang paling membuat rakyat menderita karena mereka harus berlari sebelum Belanda datang melakukan patroli untuk mencari markas tentara AURI ke desa Tanjung.. Dan rakyat juga harus menguatkan mental karena di waktu itu jika mereka bertemu dengan Belanda saat melakukan patroli lalu mereka berlari karena ketakutan mereka malah akan ditembak karena mereka dikira adalah tentara  yang dicarinya. Karena ada seorang yang membawa kayu namun ada Belanda yang sedang melakukan patroli lalu ia berlari karena sangat takut tapi ia malah ditembak oleh Belanda.
Adapun kisah lain tentang seorang yang dari bepergian membawa kacang  yaitu Pawiro Tempo dan Rejo, mereka bertemu dengan Belanda di kreteg karangmojo lalu mereka karena muda mereka diminta berhenti. Pawiro Tempo dimintai untuk mencarikan kelapa muda, ia sudah diberinya pisau untuk memetiknya, namun dari kesempatan itu ia malah pergi untuk pulang dan alatnya pun ia buang karena sangat takutnya ia pada orang Belanda. Lalu adiknya Rejo masih bersama Belanda ia ,malah diberinya makan dan lain-lain, keberntungannya ternyata Belanda meminta Rejo untuk mencari kakaknya yang mencari kelapa muda yang belum juga kembali, dari kesempatan itu pula ia gunakan untuk menyelamatkan diri pulang ke Tanjung. Sebagai penghormatan pada Belanda mereka cukup menundukan kepala kepada mereka atau untuk menyelamatkan diri mereka cukup menutupi muka atau tinggal lewat biasa. Keadaan rakyat kala itu baik-baik saja karena tujuan utama Belanda hanya untuk mencari tentara AURI bukan menyakiti rakyat. Namun karena ketakutan itu yang malah membuat rakyat khawatir dengan keadaan itu. Untuk masalah makanan rakyat juga kadang mendapat bagian dari tentara AURI saat mereka mendatpat kiriman seperti daging dll.
Adapun seorang menteri yang bernama Sumbandriyo yang bersama keluarganya yang melakukan pengungsian di Banaran dari itu mereka dapat selamat dari Belanda dan dapat kembali ke Jakarta kembali dengan selamat. Dari kejadian itu di sana didirikan tugu yang mengenang dari peristiwa pengungsian Sumbandriyo. Dari pemilik tempat itu pula keluarga Nomo pun mendapat perhiasan yang banyak dari mentri Sumbandriyo dan sampai sekarang keluarga dari mentri Sumbandriyo setiap hari kurban memberikan kurban pada desa tersebut.
Ketika adanya patrol tersebut mereka tak  ada yang berani memberi tahu dimana letak markas tentara Indonesia.namun dari itu pula ada rakyat Indonesia sendiri yang menjadi mata-mata yaitu bernama Den Margono ,yang memberikan informasi mengenai Tentara AURI. Ketika ia terpisah dengan Belanda ia dibawa ke hutan lalu dibunuh. Menurut saat itu ia mempunyai kekutan yaitu dibunuh tidak meninggal, dari kekuatannya itu ia berani menjadi mata-mata  Belanda. Ia dikubur dalam keadaan dadanya di tombak. Dalam keadaan itupun ternyata istri dari Den Margono  sedang hamil lalu anaknya lahir dan dibri nama Yatin.
Jam 08.00 WIB terjadi pertempuran hebat di daerah Ngasem yaitu antara Belanda dan Tentara AURI. Ketika itupun Martono juga melakukan penyelamatan karena ketakutan,semua bahan yang ia bawa habis karena jatuh diperjalanan. Suara letupan senjata yang terdengar begitu jelas dari Tanjung membuat kekhawatiran rakyat. Dan setelah itu Tentara AURI melakukan pidah ke tempat yang lain
Foto-Foto Tempat Yang Berhubungan Dengan tentara AURI

 





Nama                            : Martono (Simin)
Tempat Tanggal Lahir : Gunungkidul,24 Juni 1936
Nama Orang Tua          : Suto Wiryo (Diko) + Ngatikem
Jumlah Saudar            : 5 orang
Pendidikan Akhir       : SD (Sekolah Dasar)
Alamat Asal                : Dengok III,Dengok,Playen,Gunungkidul
Nama Istri                 : Ngadinem
Jumlah Anak             : 3 orang
Alamat                      : Tanjung II, Bleberan,Playen,Gunungkidul


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

About

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Viewer